Seleksi Perusahaan Katering Jemaah Haji

Diposting pada

Tim Penyediaan Konsumsi Di Arab Saudi sedang meninjau salah satu dapur katering
Seleksi Perusahaan Katering Jemaah Haji, Jakarta (hajikita.com) – Proses penyediaan katering untuk calon jemaah haji Indonesia di Arab Saudi telah mulai berjalan. Sejak tanggal 13 Maret 2017, Tim Penyediaan Konsumsi Jemaah Haji Indonesia Di Arab Saudi (Tim Katering) telah mulai menerima berkas penawaran.
Menurut Arsyad, berdasar pada data penawaran perusahaan yang masuk, Tim Katering rencananya bakal mulai melaksanakan peninjauan ke lapangan (kasfiyah) pada 18 Maret 2017. Akan tetapi, peninjauan lapangan cuma dilakukan ke dapur-dapur katering yang lolos seleksi berkas administrasi.

“Kita bakal merekrut dapur-dapur yang berprestasi pada musim haji tahun lalu dengan sistem repeat order. Teknisnya, dapur-dapur itu bakal memperoleh nilai tambah berdasarkan kemampuan yang mereka lakukan pada tahum sebelumnya,” katanya. Akan tetapi, lanjut Arsyad, Tim Katering juga masih akan membuka kesempatan untuk dapur-dapur baru yang dinilai mempunyai kapabilitas serta kualifikasi yang dipersyaratkan.
Ditanya masalah tantangan, Arsyad mengakui kalau tantangan Tim Katering tahun ini lebih berat. Sebab, kota haji tahun ini kembali normal, sesudah empat tahun mengalami pemotongan 20%. Kuota normal Indonesia yaitu 211.000. Angka ini bahkan juga bertambah bersamaan adanya tambahan kuota untuk Indonesia sebesar 10.000.
Tantangan yang lain, kata Arsyad yaitu berkaitan adanya penambahan makan untuk jemaah haji sepanjang di Makkah sebanyak 2 kali. “Bila pada tahun 2016, jemaah memperoleh 24 kali makan di Makkah, tahun ini jadi 26 kali,” tuturnya.
Selain itu, jemaah sepanjang di Makkah akan memperoleh camilan untuk sarapan pagi berbentuk cupcake atau croissant tanpa adanya tambahan cost. “Dengan begitu, jemaah di Makkah bakal memperoleh sarapan berbentuk cupcake, selain makan siang dan malam,” katanya.
Tim Katering mesti mengevaluasi menu-menu yang cepat rusak pada penyelenggaraan haji tahun lalu lantaran kondisi panas, umpamanya : menu sayuran bamia atau okra serta udang kering. Menu-menu yang seperti ini mesti ditukar dengan menu baru yang lebih tahan serta tak gampang rusak.
“Tim mesti memastikan kemampuan perusahaan untuk menyediakan makanan dengan cita rasa Indonesia, termasuk juga menambah tenaga distribusi katering yang dapat berbahasa Indonesia,” jelas Arsyad. “Tim juga akan mencari alternatif menu lain yang asli Indonesia, seperti tahu serta tempe,” imbuhnya.

Kementerian Agama sudah menerbitkan Peraturan Menteri Agama (PMA) No 9 Tahun 2016 tentang Penyediaan Barang/Jasa dalam Penyelenggaraan Ibadah Haji di Arab Saudi. PMA ini mengatur bahwa penyediaan konsumsi untuk jemaah haji Indonesia terdiri dari konsumsi di Madinah, Jeddah, Makkah, dan Arafah, Muzdalifah, serta Mina (Armina).

“Tim Katering sudah tiba di Arab Saudi sejak tanggal 8 Maret serta bakal bertugas sepanjang 60 hari untuk menyeleksi perusahaan penyedia katering, baik di Madinah, Jeddah, Makkah, serta Armina,” tandasnya.(Kemenag)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *