KUH KJRI Jeddah Menangi Dua Kasus Akomodasi

Posted on

KUH KJRI Jeddah
KUH KJRI Jeddah Menangi Dua Kasus Akomodasi, Jeddah (hajikita.com) – Kantor Urusan Haji (KUH) KJRI Jeddah sukses memenangkan dua persoalan hukum yang telah berjalan sepanjang lebih kurang 3 tahun di Pengadilan Umum Kota Mekkah. 
Dua persoalan hukum itu berkaitan dengan pembatalan akomodasi jemaah haji Indonesia di Mekkah pada musim haji tahun 2013 serta tahun 2014.

loading...

Staf Teknis Haji I KUH KJRI Ahmad Dumyathi Bashori, Kamis (13/04), menerangkan bahwa persoalan itu bermula saat salah satu pemilik gedung yang disewa untuk akomodasi jemaah haji Indonesia pada musim haji tahun 2013 tidak bisa menyerahkan surat izin penempatan jemaah haji (tasrih) hingga batas waktu yang sudah ditetapkan dengan beragam argumen. Pihak KUH pada akhirnya membatalkan sewa gedung itu dan mewajibkan pemilik gedung untuk mengembalikan pembayaran tahap awal yang telah diterima.

Menurut Dumyathi, beragam usaha dilaksanakan KUH supaya uang yang telah dibayarkan dapat dikembalikan. Komunikasi selalu dijalin dengan pihak pemilik gedung, baik melalui telepon atau surat resmi. KUH juga memohon pertolongan Kementerian Haji Mekkah untuk menyelesaikan masalah ini. Tetapi, semuanya tak berbuah hasil, pemilik gedung bersikeras tidak mengembalikan uang. KUH pun sesudah itu menempuh jalur hukum melalui Kantor Pengadilan Umum Kota Mekkah.

Sementara untuk persoalan tahun 2014, lanjut Dumyathi, berlangsung lantaran unsur kesengajaan pemilik gedung yang menyewakan gedungnya kepada negara lain (Turki). Walau sebenarnya, pemilik telah menandatangani kontrak dengan KUH. Pemilik gedung bahkan juga telah menerima pembayaran tahap pertama.

KUH KJRI awalnya berupaya supaya gedung itu dapat dihuni jemaah haji Indonesia, tetapi menemui jalan buntu. Sebab, gedung itu telah terlebih dulu didaftarkan pada sistem elektronik haji (E-haj) oleh Turki, sehingga KUH tidak bisa melaksanakan dua kali pendaftaran, tuturnya.

KUH KJRI Jeddah pada akhirnya menunjuk Hatim Faishol Muhammad Iraqi, untuk mengurus dua persoalan tersebut di Pengadilan Umum Kota Mekkah, imbuhnya.

Dumyathi bercerita bila Hatim awalnya juga menjumpai banyak masalah waktu menjumpai pemilik hotel. Walau sebenarnya, untuk mengajukan tuntuan lewat pengadilan, mesti mengantongi identitas serta alamat orang yang diperkarakan.

Selang lebih dua bulan, alamat didapat serta pemilik hotel dapat ditemui. Tuntutan diserahkan serta Hatim menjalani lebih kurang 14 kali sidang dalam kurun 1.5 tahun. Dumyathi mengaku bila beberapa sidang dihadiri langung olehnya untuk memberikan keterangan serta kesaksian.

“Pada akhirnya pihak Pengadilan Umum Kota Mekkah memenangkan Kantor Urusan Haji atas persoalan itu, dengan mewajibkan pemilik gedung mengembalikan uang yang telah dibayarkan,” papar Dumyathi.

Naskah putusan Kantor Pengadilan Umum Kota Mekkah sudah diserahkan langsung Hatim Faishol Muhammad Iraqi kepada Konsul Haji KJRI Jeddah di Mekkah, Senin (10/04) lalu. Sekarang ini, pihak KUH tinggal menanti pengembalian uang pembayaran dari pemilik dua gedung itu.

Ahmad Dumyathi menilai persoalan ini sebagai capaian KUH dalam menuntut haknya atas sikap wanprestasi pemilik gedung akomodasi. KUHI punya komitmen tinggi menyelesaikan setiap masalah hukum yang tertunda. “Kita tidak mau mewariskan masalah pada genarasi mendatang,” pungkasnya.

Pada tahun 2015, KUH juga sudah memenangkan persoalan hukum Ana Catering yang semestinya melayani jemaah haji Indonesia di Arafah pada tahun 2006 lalu.(Kemenag)

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.